Kamis, 19 Desember 2013

merantau

Belum genap dua bulan aku memakai jubah kelulusan, jubah kebanggaan bagi setiap mahasiswa/i yang baru saja menyelesaikan pendidikannya. Masih lekat di ingatan ini tentang awal perjalanan hidupku untuk memilih menjadi seorang anak rantau. Jauh dari rumah, jauh dari orangtua, jauh dari keluarga dan yang pasti jauh dari tanah air. Banyak hal baru yang aku temui di sana. Semua yang baru ini mengubah aku yang lama, tentunya menjadi aku yang lebih baik.

Kamu tau? kepuasan sebagai anak rantau hanya bisa dirasakan saat kamu kembali ke tanah air. Kamu puas karena pernah merasakan pengalaman yang mungkin tidak semua orang bisa beruntung mengalaminya. Kamu puas karena kamu berhasil bertahan di luar zona nyamanmu. Kamu puas karena kamu mampu berjuang mendapatkan sesuatu yang tidak mudah didapatkan. Kamu puas karena dengan merantau pandanganmu tentang dunia semakin luas.

Alhamdulillah, tidak ada sedikitpun rasa sesal yang hinggap di diri ini karena memilih untuk mengenyam pendidikan di negeri orang. Enam tahun pun terasa begitu cepat. Kalau saja ada kesempatan, aku masih bersedia ditempatkan di luar zona nyamanku. Agar aku mampu mengubah aku yang baru setiap waktunya.

Minggu, 15 Desember 2013

someone who suddenly came into my life

Tanggal 7 Desember, satu hari sebelumnya, untuk ke sekian kalinya, tiba-tiba bapak datang bawa kabar yang sangat mengejutkan. "Jangan marah ya", begitu katanya. Seterusnya percakapan itu bergulir *gak bisa aku ceritain di sini* dan aku bingung meresponnya dengan kata-kata. Bahkan aku terlihat salah tingkah! Hahaha.

Esoknya, ada dua orang tamu yang tak pernah diduga datang ke rumah. Walaupun sebenarnya kita bertetangga tetapi kita gak saling kenal. Lalu, kita berkenalan, bercerita dan semuanya mengalir begitu saja.

Keesokan harinya lagi, aku mulai berkenalan dengan seseorang yang sebelumnya gak pernah aku sangka bakal hadir dalam hidup aku. Entah untuk sesaat atau sampai nantinya. Ini rencana Allah dan Allah juga yang akan menentukan ke depannya. Aku tidak akan pernah tau, sama halnya saat aku tidak tau akan ada seseorang yang tiba-tiba datang seperti ini. Sejauh ini aku hanya menjalaninya seperti biasa.

Seminggu sudah kita berkenalan, bercerita dan mengobrol melalui telefon. Sabtu kemarin, dia datang ke rumah dan bertemu kedua orangtuaku. Semuanya berjalan lurus begitu saja, seolah-olah kita sudah lama saling kenal. Kalau boleh jujur, sejauh perkenalan ini aku bisa menerima kedatangannya. Tapi, hati ini masih belum bisa menyambutnya. Karena hati gak boleh ikut main biar nanti kalau dikecewain gak bakal sesakit dulu. Okesip. Hahaha!