"Dia menyukai kesendirian. Namun, sendiri dan kesepian itu memang berbeda meski kadang secara serampangan orang kerap menganggap sama". (Dikutip dari Bukan Cerita Cinta -nya Windy Ariestanty dalam Kala Kali).
Entah kenapa aku merasa tersentil ketika membaca bagian itu. Aku jadi terinspirasi untuk menulis sedikit tentang arti sendiri dan kesepian dalam postingan kali ini. Tunggu. Sepertinya aku lebih suka memisahkan kedua kata tersebut, sendiri atau kesepian? Mana yang lebih cocok pada diri kamu?
Bagiku, kedua kata itu mempunyai makna dan situasi yang berbeda-beda. Terserah kamu mau memaknainya seperti apa dan dalam situasi yang bagaimana. Ya, sesuai dengan apa yang sedang kamu pikirkan. Untuk tulisan ini, aku artikan kedua kata itu sebagai tidak-punya-pacar.
Aku tidak ingat sudah berapa lama aku tidak-punya-pacar, yang pasti sangat lama. Hari-hari aku jalani dengan kesendirian. Aku tidak kesepian. Aku menyukai kesendirian. Aku bebas melakukan apa saja yang aku sukai, sendirian. Tidak ada waktu dan situasi yang mau menerima kata 'kesepian'. Aku pandai mengusirnya.
Jalan-jalan ke mall, nongkrong di cafe, makan di restoran, pergi ke toko buku, nonton bioskop, hair spa-manicure-pedicure di salon, konsultasi dengan dokter kulit, dan banyak lagi. Aku pernah melakukan itu semua sendirian. Mungkin nyaris keseringan. Alhamdulillah, aku tidak pernah merasa itu sebuah kesepian yang patut dikasihani. Aku melakukan semuanya dengan senang hati. Aku menikmatinya. Aku menyukai saat-saat sedang melamun (karena tidak ada lawan bicara), aku bisa memperhatikan orang-orang di sekitarku.
Namun tidak bisa dipungkiri, akan ada saatnya 'kesepian' itu menghampiri. Entah kapan dan bagaimana.